Ketika Air dan Tanah Bertemu Api Konflik: Sebuah Simpul Rumit Pengelolaan Sumber Daya
Isu pengelolaan sumber daya air dan konflik agraria seringkali bukan dua masalah terpisah, melainkan dua sisi mata uang yang sama, saling terkait erat dan memicu ketegangan yang mendalam di banyak wilayah. Keduanya membentuk simpul rumit yang menuntut perhatian serius dan pendekatan solusi yang komprehensif.
Dimensi Air: Perebutan dan Degradasi
Kebutuhan air yang terus meningkat untuk berbagai sektor – pertanian skala besar, industri ekstraktif, energi (PLTA), hingga konsumsi domestik perkotaan – menciptakan persaingan sengit. Ditambah lagi, degradasi lingkungan seperti deforestasi di daerah hulu, pencemaran sungai oleh limbah industri dan pertanian, serta eksploitasi air tanah berlebihan, semakin memperparah kelangkaan dan kualitas air. Masyarakat lokal, terutama petani kecil dan masyarakat adat, seringkali menjadi pihak yang paling rentan terhadap krisis air ini, baik karena sumber air mereka dialihkan, dikuasai, atau tercemar.
Dimensi Agraria: Penguasaan dan Dampak Lingkungan
Konflik agraria, yang seringkali berakar pada sengketa kepemilikan atau penguasaan lahan antara masyarakat adat/lokal dengan korporasi besar atau negara, memiliki dimensi air yang tak terpisahkan. Perubahan fungsi lahan secara drastis mengubah tata kelola air. Misalnya, konversi hutan menjadi perkebunan monokultur (sawit, HTI) atau area pertambangan besar-besaran, tidak hanya menghilangkan akses masyarakat terhadap tanah ulayat, tetapi juga merusak daerah tangkapan air, mengurangi debit sungai, dan menyebabkan pencemaran air akibat penggunaan pestisida atau limbah tambang. Akses masyarakat lokal terhadap sumber air bersih bisa terputus akibat pengalihan aliran, atau tercemar limbah yang membahayakan kesehatan dan mata pencarian mereka.
Simpul Konflik dan Dampaknya
Ketika akses terhadap tanah dan air terancam atau hilang, konflik pun tak terhindarkan. Masyarakat berjuang mempertahankan hak-hak mereka atas sumber daya esensial ini. Dampaknya adalah ketidakadilan sosial, kemiskinan struktural, kerusakan ekologi permanen, dan potensi konflik horizontal yang membahayakan stabilitas.
Menuju Solusi Berkelanjutan
Penyelesaian isu ini membutuhkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan kebijakan agraria dan pengelolaan sumber daya air. Penting untuk mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat dan lokal atas tanah dan air, menegakkan keadilan agraria, serta menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan air yang berkelanjutan, transparan, dan berbasis partisipasi. Hanya dengan menempatkan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas utama, simpul rumit antara air dan tanah dapat diurai, demi masa depan yang lebih adil dan lestari bagi semua.
