Prakerja dan UMKM: Mengupas Manfaat dan Tantangan di Balik Pelatihan Inklusif
Program Kartu Prakerja, sejak diluncurkan, bukan hanya sekadar jaring pengaman sosial atau peningkatan kompetensi bagi pencari kerja. Ia juga digadang-gadang sebagai katalisator lahirnya wirausaha baru dan penguatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, bagaimana evaluasi dampaknya bagi sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia ini?
Manfaat yang Terasa: Peningkatan Kapasitas dan Semangat Berinovasi
Bagi banyak pelaku UMKM atau calon wirausaha, Prakerja telah memberikan angin segar. Pelatihan yang ditawarkan, terutama yang berfokus pada keterampilan digital, pemasaran online, manajemen keuangan sederhana, hingga penyusunan rencana bisnis, sangat relevan di era digital ini. Banyak peserta melaporkan peningkatan kepercayaan diri, kemampuan untuk memasarkan produk secara daring, dan pemahaman dasar pengelolaan usaha. Ini mendorong adaptasi dan inovasi, membantu UMKM yang tadinya konvensional untuk melek teknologi dan memperluas jangkauan pasar.
Tantangan dan Area Perbaikan: Relevansi dan Keberlanjutan
Meskipun dampaknya positif, evaluasi juga menyoroti beberapa tantangan. Pertama, relevansi pelatihan. Tidak semua kurikulum sesuai dengan kebutuhan spesifik dan tingkat kematangan UMKM yang beragam. Ada kritik bahwa beberapa pelatihan terlalu umum atau kurang mendalam untuk benar-benar menciptakan perubahan signifikan dalam operasional bisnis. Kedua, akses permodalan dan pendampingan berkelanjutan. Pelatihan saja tidak cukup; UMKM seringkali terkendala akses modal dan membutuhkan bimbingan pasca-pelatihan untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Ketiga, pengukuran dampak jangka panjang. Efektivitas program perlu diukur tidak hanya dari selesainya pelatihan, tetapi juga dari kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan keberlanjutan usaha.
Kesimpulan: Potensi Besar, Perlu Penguatan Terarah
Evaluasi menunjukkan bahwa Program Kartu Prakerja memiliki potensi besar untuk memberdayakan pelaku UMKM melalui peningkatan keterampilan dan semangat kewirausahaan. Namun, agar dampaknya lebih optimal dan berkelanjutan, diperlukan penyempurnaan yang lebih terarah. Integrasi dengan skema permodalan mikro, kurikulum yang lebih spesifik dan adaptif, serta platform pendampingan pasca-pelatihan yang kuat akan menjadi kunci. Dengan demikian, Prakerja dapat benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, bukan hanya sekadar program pelatihan.
