Dampak Hukuman Sosial terhadap Pelaku KDRT

Stigma KDRT: Pedang Bermata Dua Hukuman Sosial

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah luka yang menganga, tidak hanya bagi korban, tetapi juga menciptakan riak di masyarakat. Di luar ranah hukum formal, ada "pengadilan" tak tertulis yang kerap menjatuhkan vonis berat: hukuman sosial. Ini adalah isolasi, pengucilan, dan stigma yang dilekatkan masyarakat kepada pelaku KDRT. Namun, bagaimana dampak hukuman ini bagi pelakunya? Apakah ia efektif atau justru memperumit masalah?

Efek Jera dan Katalis Perubahan (Sisi Positif Potensial)

Bagi sebagian pelaku, rasa malu, isolasi, dan penolakan dari lingkungan sosial bisa menjadi cambuk yang menyakitkan. Kehilangan reputasi, pekerjaan, atau relasi persahabatan/keluarga bisa menjadi titik balik. Hukuman sosial berpotensi mendorong pelaku untuk introspeksi, mengakui kesalahan, dan mencari bantuan untuk mengubah perilakunya. Ini bisa menjadi sinyal kuat bahwa tindakan mereka tidak dapat ditoleransi dan memiliki konsekuensi yang nyata di luar jeruji besi.

Isolasi Mendalam dan Hambatan Rehabilitasi (Sisi Negatif & Kompleksitas)

Namun, hukuman sosial juga ibarat pedang bermata dua. Alih-alih memperbaiki, isolasi dan penolakan bisa mendorong pelaku semakin terpuruk dalam penolakan, kemarahan, atau depresi. Beberapa pelaku mungkin justru bereaksi defensif, menyangkal, atau bahkan mengembangkan dendam, yang bisa memperburuk kecenderungan kekerasan mereka.

Tanpa dukungan profesional, stigma mempersulit akses pelaku ke terapi atau program rehabilitasi yang vital. Mereka mungkin takut dicap buruk atau dihakimi, sehingga memilih untuk tidak mencari bantuan. Akibatnya, alih-alih memutus rantai kekerasan, hukuman sosial yang tanpa pendampingan bisa mendorong perilaku tersembunyi, memperpetuasi siklus kekerasan di lingkungan lain, atau bahkan berpotensi menciptakan bahaya baru.

Kesimpulan: Membutuhkan Pendekatan Holistik

Hukuman sosial terhadap pelaku KDRT adalah fenomena kompleks yang bisa memicu efek jera namun juga berpotensi memperparah masalah jika tanpa penanganan yang tepat. Masyarakat perlu memahami bahwa hukuman sosial saja tidak cukup. Pendekatan komprehensif, yang meliputi penegakan hukum yang tegas, program rehabilitasi dan terapi, serta edukasi publik, adalah kunci. Tujuannya bukan sekadar menghukum, tapi memutus siklus kekerasan dan mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan demi keamanan dan kesejahteraan semua. Masyarakat harus lebih dari sekadar menghukum; kita harus mendukung proses perubahan yang menyeluruh.

Exit mobile version