Layarkaca Pembentuk Vonis: Ketika Media Mengadili Kasus Kriminal di Mata Publik
Media massa, dengan jangkauan dan kecepatannya, memegang peran sentral dalam membentuk opini publik, terutama terkait kasus kriminal. Namun, kekuatan ini bagai pedang bermata dua.
Saat sebuah kasus kriminal mencuat, media segera menjadi corong informasi utama. Pemberitaan yang intens, visualisasi, dan narasi yang dibangun media mampu menciptakan persepsi awal yang kuat di benak masyarakat. Kecepatan penyebaran informasi, terutama di era digital dan media sosial, mempercepat pembentukan opini ini, seringkali bahkan sebelum proses hukum tuntas.
Dampak negatifnya adalah potensi "pengadilan oleh media" (trial by media). Publik bisa saja telah ‘menvonis’ seseorang bersalah atau tidak bersalah berdasarkan liputan media, mengabaikan asas praduga tak bersalah. Sensasionalisme atau bias dalam pemberitaan dapat memanipulasi emosi, memicu prasangka, dan bahkan mempengaruhi integritas proses peradilan. Reputasi korban dan terduga pelaku bisa hancur sebelum fakta sebenarnya terungkap di pengadilan.
Di sisi lain, media juga dapat menjadi pilar penting dalam demokrasi, meningkatkan kesadaran publik dan mendorong akuntabilitas. Namun, dalam konteks kasus kriminal, peran ini menuntut tanggung jawab besar. Masyarakat perlu kritis menyaring informasi, sementara media wajib menjunjung tinggi etika jurnalistik dan akurasi agar opini publik terbentuk secara adil dan berdasarkan fakta, bukan sensasi.
