Dampak Perubahan Iklim terhadap Kebijakan Pertanian

Panen Terancam: Kebijakan Pertanian di Pusaran Krisis Iklim

Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang kini menguji ketahanan sektor pertanian global. Dampaknya meresap hingga ke akar kebijakan yang selama ini menopang produksi pangan kita.

Ancaman Nyata di Lahan Pertanian
Peningkatan suhu, pola curah hujan yang tidak menentu, kekeringan berkepanjangan, banjir ekstrem, hingga serangan hama penyakit baru—semua ini secara langsung mengancam produktivitas lahan, keberlanjutan pasokan pangan, dan kesejahteraan petani. Lahan subur bisa berubah tandus, musim tanam bergeser tak terprediksi, dan hasil panen menurun drastis.

Urgensi Transformasi Kebijakan
Menghadapi tantangan ini, kebijakan pertanian tidak bisa lagi bersifat statis. Diperlukan transformasi menuju pendekatan yang adaptif dan berkelanjutan. Ini mencakup:

  1. Investasi Adaptasi: Mendorong riset dan pengembangan varietas tanaman tahan iklim (toleran kekeringan/banjir), sistem irigasi cerdas, diversifikasi komoditas lokal, serta praktik pertanian regeneratif yang memperbaiki kesehatan tanah dan siklus air.
  2. Mitigasi Emisi: Mengintegrasikan kebijakan yang mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian, seperti pengelolaan pupuk yang efisien, penggunaan energi terbarukan, dan praktik agroforestri.
  3. Dukungan Petani: Menciptakan insentif, fasilitas keuangan (asuransi pertanian), dan program pelatihan bagi petani agar mampu mengadopsi teknologi dan praktik baru yang lebih ramah iklim.
  4. Tata Kelola Air dan Lahan: Memperkuat kebijakan pengelolaan air terpadu dan zonasi lahan yang mempertimbangkan risiko iklim, serta mencegah alih fungsi lahan produktif.

Masa Depan Pangan di Tangan Kebijakan
Pada akhirnya, kebijakan pertanian di era perubahan iklim harus berpusat pada ketahanan pangan nasional dan global, sambil memastikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan para produsen pangan. Ini adalah langkah krusial untuk menjaga bumi tetap hijau dan meja makan kita tetap terisi.

Exit mobile version