Anakku, Aman di Sekolah? Menguak Kekerasan Terselubung
Sekolah, yang seharusnya menjadi benteng kedua perlindungan dan tempat bertumbuh kembang, sayangnya seringkali menjadi arena di mana kekerasan terhadap anak terjadi. Fenomena ini bukan lagi rahasia umum, melainkan alarm yang harus kita dengar dan tanggapi serius.
Kekerasan di lingkungan sekolah beragam bentuknya. Tidak hanya sebatas fisik seperti pukulan atau tendangan, tetapi juga kekerasan verbal (ejekan, hinaan), psikis (pengucilan, intimidasi, perundungan atau bullying), bahkan dalam kasus ekstrem, kekerasan seksual. Pelakunya pun bisa siapa saja: teman sebaya, senior, atau bahkan oknum dewasa di lingkungan sekolah.
Dampak dari kekerasan ini sangat merusak. Anak korban bisa mengalami trauma mendalam, ketakutan untuk pergi ke sekolah, penurunan prestasi akademik, masalah emosional seperti depresi dan kecemasan, hingga kesulitan dalam bersosialisasi. Masa depan mereka bisa terenggut karena luka yang tak terlihat.
Mengapa ini terjadi? Kurangnya pengawasan, minimnya edukasi tentang kekerasan, budaya diam, dan ketidaktegasan dalam penanganan kasus sering menjadi pemicu. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari semua pihak: orang tua, guru, pihak sekolah, dan masyarakat.
Sekolah harus memiliki kebijakan anti-kekerasan yang jelas dan ditegakkan, program edukasi tentang empati dan anti-bullying, serta mekanisme pelaporan yang aman bagi anak. Orang tua juga wajib membangun komunikasi terbuka dengan anak dan peka terhadap perubahan perilaku mereka.
Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas kekerasan adalah tanggung jawab kita bersama. Hanya dengan begitu, setiap anak dapat tumbuh dan belajar tanpa rasa takut, meraih potensi terbaiknya di tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua mereka.
