Jebakan Asmara Daring: Ketika Janji Pernikahan Berujung Kerugian
Di era digital, pencarian pasangan hidup seringkali beralih ke ranah online. Namun, kemudahan ini juga membuka celah bagi modus penipuan berkedok pernikahan daring yang semakin marak. Pelaku, yang kerap disebut "scammer," bersembunyi di balik profil palsu dan janji manis untuk menjerat korban.
Modus Operandi yang Licik:
Awalnya, pelaku membangun hubungan emosional yang intens. Mereka menciptakan persona yang sempurna—menawan, sukses, dan sangat perhatian—membuat korban merasa menemukan belahan jiwa. Setelah kepercayaan terbangun dan janji pernikahan dilontarkan, mulailah "drama" yang berujung pada permintaan uang. Alasannya beragam: biaya tiket pesawat, visa, bea cukai, investasi bisnis, atau bahkan darurat medis palsu. Pelaku akan terus mendesak dan memanipulasi emosi korban agar mengirimkan dana, seringkali dalam jumlah besar.
Dampak yang Menyakitkan:
Korban penipuan ini tidak hanya mengalami kerugian finansial yang signifikan, tetapi juga trauma emosional mendalam. Rasa dikhianati, malu, dan hancurnya harapan akan masa depan bersama meninggalkan luka psikologis yang sulit disembuhkan. Mereka kehilangan kepercayaan, baik pada orang lain maupun pada diri sendiri.
Waspada adalah Kunci:
Maka, penting untuk selalu waspada. Jangan mudah terbujuk rayuan atau janji manis dari orang yang baru dikenal secara online. Selalu verifikasi identitas, jangan pernah mengirimkan uang kepada siapapun yang belum Anda temui langsung dan kenal secara mendalam. Ingat, cinta sejati tidak pernah meminta imbalan materi atau membebani Anda dengan masalah keuangan yang tidak masuk akal. Lindungi hati dan dompet Anda dari jebakan asmara daring.
